Jika hujan itu
di anggap berkah dari Tuhan, lalu bagaimana dengan kemarau? Apakah kemudian
kemarau itu merupakan musibah, cobaan atau ujian dari Tuhan? Bukankah kedua
musim tersebut merupakan siklus alam yang akan terus berulang secara bergantian
selama waktu terus berjalan.
Kemarau yang di
anggap sebagai ujian namun berganti sifatnya menjadi musibah ketika kemarau itu
menjadi amat sangat panjang, bukankah itu penghakiman yang kurang adil terhadap
kemarau. Lalu bagaimana dengan hujan yang semula di anggap berkah Tuhan yang
terus menerus turun dan menyebabkan banjir sehingga anggapan berkah itu berubah
menjadi hukuman Tuhan kepada manusia.
Oh manusia
semudah itukah mereka memberikan penghakiman terhadap siklus alam yang selalu
terjadi berulang-ulang tahun demi tahun. Tahu apa manusia sehingga mereka
dengan mudah berpendapat ini ujian Tuhan, itu berkah Tuhan, dan Tuhan telah
menghukum mereka atas dosa-dosa yang mereka perbuat. Tahu apa manusia mengenai
perkara dosa dan amal perbuatan manusia.
Apakah karena
air hujan yang menyirami bumi itu kemudian menyuburkan tanah dan tanaman
sehingga mereka mengatakan bahwa hujan itu berkah Tuhan. Jika hujan dan kemarau
Tuhan semua yang mengaturnya lalu apa hak manusia mengatakan hujan itu berkah
dan kemarau panjang itu musibah? Jika itu benar adanya disetiap berkah yang
Tuhan berika Dia juga menyisipkan musibah didalamnya. Apakah memang seperti itu
cara Tuhan bekerja, atau itu hanya pendapat manusia yang dengan mudah
mengeluarkan kata-kata dari lidah tak bertulangnya?
Manusia itu
memang penuh dengan kekurangan yang tak ingin mereka perlihatkan secara
langsung. Dengan sekehendak hatinya menghakimi har-hari yang mereka jalani.
Panas yang menusuk kepala mereka keluhkan, hujan yang membasahi tubuh mereka
keluhkan. Tetapi ketika mendung tanpa panas dan hujan mereka elu-elukan.
Mengapa manusia tidak bisa bersyukur atas keduanya. Bersyukur dikala hujan
bersyukur dikala kemarau, menikmati mendung dengan angin sepoi yang berhembus,
menikmati manfaat terik matahari pagi. Bukankah akan menjadi hal yang sangat
indah ketika mereka mau mensyukuri semua itu tanpa harus menghakim salah
satunya.
Tidak pernah ada
kata puas di hati manusia dalam menghakimi sesuatu yang mereka anggap buruk dan
tak pernah rela memberikan pujian terhadap hal-hal yang secara sadar mereka
anggap baik. Jika hujan dan panas tak pernah lelah menyirami dan menyinari
kenapa manusia harus mengeluh dan lelah menerimanya tanpa harus melakukan
apa-apa. Bukankah tumbuhan juga butuh panas matahari disamping hujan yang
menyiraminya.
Selain itu
bukankah adanya kemarau dan hujan menjadi perpaduan yang sempurna, seperti
adanya siang dan malam, baik dan buruk, iblis dan malaikat. Jika perpaduan
tersebut ada untuk saling mengisi mengapa manusia harus menghakimi salah satu
sebagai sesuatu yang buruk? Jika hanya hujan yang selalu menjadi berkah apakah
manusia menginginkan hujan terus menerus? Kita rasa tidak dan itu tidak perlu
dibuktikan. Bukankah segala yang ada di dunia ini memang diciptakan berpasangan
dan berdampingan. Matahari di siang hari dan bulan di malam hari, wanita yang
akan mendampingi si pria. Malam menggantikan siang ketika berakhir. Begitu juga
halnya dengan hujan yang menggantikan kemarau ketika saatnya tiba.
Apakah ada yang
salah dari hal tersebut? Ah kita rasa tidak, hanya pendapat egois manusia saja
yang menganggap salah satu pasangan tersebut bukan merupakan berkah, bukan
merupakan hal yang baik. Bagaimana dengan manusia. Apakah mereka menjadi orang
yang baik ataupun adil ketika mereka mulai melakukan penghakiman sekehendak
hati dan lidahnya sendiri? Dimana manusia meletakkan sisi keadilan sejatinya.
Begitu juga
halnya denga saya, mungkin saya tidak bisa lepas dari sifat egois manusia yang
terkadang suka menghakimi sesuatu tanpa menimbangnya terlebih dahulu. Mungkin
dengan tulisan ini juga saya sudah termasuk dalam bagian manusia yang seperti
itu. Itulah kenapa banyak orang mengatakan tidak ada manusia yang sempurna
sejak dulu kala. Adanya peribahasa tak
ada gading yang tak retak juga mungkin muncul karena manusia itu sendiri
sadar bahwa mereka tidak sempurna. Tapi kadang hal itu mereka tutupi dengan
berbagai cara.
Sebenarnya saya
sendiri tak tahu kemana arah tujuan tulisan ini, sungguh saya tidak tahu.
Karena sejak awal mungkin tulisan ini memang tak memiliki tujuan atau mungkin
tulisan ini dimaksudkan hanya untuk menghabiskan waktu yang benar-benar luang
ini. Atau mungkin juga tulisan ini mencoba agar judul blog tetap singkron
dengan berbagai isi yang di dalamnya. Sudahlah untuk apa hal seperti itu
dibahas. Lagipula saya sudah lelah untuk hari ini, dan saya cukupkan sampai
disini titik
Comments
Post a Comment